Mas Joko : Muda, Milenial Sukses Beternak

15 November 2019 / Oleh: ADMIN / Direktori: Peternakan & Kesehatan Hewan

Langit sore cerah berpayung senja saat itu. Rasa lelah seorang pemuda setelah bekerja seharian. Seolah sirna ketika ia terlihat begitu lincah menyiapkan campuran konsentrat untuk tiga ekor sapinya. Kemudian dengan lahap sapi-sapi itu menghabiskan makanannya. Ditunggui tuannya sembari menikmati alunan musik dari handphone-nya.

Joko Hariyanto nama pemuda itu. Biasa dipanggil Mas Joko. Pemuda asli Sleman kelahiran bulan September Tahun 1995 ini tinggal di Dusun Tonggalan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Banyak warga di kampungnya yang memelihara ternak domba maupun sapi. Di usianya yang ke-24 tahun, Mas Joko termasuk salah satu anak muda yang sukses mengelola ternak domba.

Pada awalnya ia hanya memelihara 5 ekor domba di belakang rumah. Waktu itu masih duduk di bangku sekolah SMK Muhammadiyah Pakem. Mas Joko mencari rumput setelah pulang sekolah. Disaat anak-anak seusianya mungkin malu bila harus ngarit. “Alhamdulillah kenapa harus malu, selama itu halal” Katanya.

Setelah lulus SMK, ia berniat mendaftar sebagai anggota TNI. Alhasil sudah dua kali mencoba namun belum ditakdirkan untuk lulus. Kemudian ia memutuskan untuk mengikuti diklat satpam dan langsung bekerja di salah satu pabrik roti di daerah ring road barat sampai sekarang. Meski sudah bekerja, Mas Joko tetap menekuni beternak domba dan terus berkembang. Karena sudah bekerja, ia dibantu sang ayah untuk keperluan mencari pakan ternaknya.

Suka duka ketika awal memelihara domba, pernah terjadi beberapa kali kematian karena penyakit dan menimbulkan kerugian. Bergabung dengan komunitas peternak domba jogja adalah pilihan tepat. Kini usaha ternak domba semakin lancar karena sudah mengetahui cara pemasaran, kesehatan ternak dan lainnya. Tahun demi tahun populasi domba semakin bertambah. Baik dari peranakan sendiri maupun membeli anakan untuk penggemukan. Sehingga ia memutuskan untuk memperluas kandang dengan kapasitas diatas seratus ekor. Untuk urusan kesehatan domba. Mas Joko biasa memanggil dokter hewan yang rumahnya tak jauh dari tempat ia tinggal.

Ketika kami tanya kenapa mau beternak? Mas Joko berkata “Alasan saya terjun ke peternakan karena melihat peluang usaha dan hasil yang menjanjikan dari beternak domba maupun sapi.” Benar saja, pada hari raya qurban tahun ini, ia sukses menjual 150 ekor domba dengan kisaran harga 2 hingga 5 jutaan. Pencapaian yang tidak diduga olehnya, keuntungannya ia belikan tiga ekor sapi.

Karena kewalahan apabila mengurus domba dan sapi sekaligus, mas Joko menitipkan sapinya di kelompok ternak yang tidak jauh dari rumahnya dengan sistem gaduh, tetapi untuk pakan tambahan konsentrat dan nutrisi lainnya, ia memilih untuk meracik dan memberikan sendiri disetiap pagi dan sore setelah bekerja.

Untuk kandang domba saat ini baru terisi 20 ekor, awal tahun depan ia berencana akan mulai menambah populasi domba lagi untuk melayani masyarakat yang ingin membeli domba peliharaan, aqiqoh maupun kurban. “Harapan ke depan agar bisa lebih maju lagi dan domba maupun sapi bisa bertambah agar bisa membantu swasembada daging nasional. ” Katanya menutup pembicaraan kami.

Wahai pemuda milenial Sleman. Siap menjadi sosok Mas Joko berikutnya? (@drhpoer)

 

Penulis :

Drh. Purwanto – Puskeswan Prambanan, UPTD Yankeswan

Harga Komoditas Pasar
Harga Komoditas Pertanian
  • Harga (Rp/Kg)
    Nama Produk (Komoditas)
  • 49.000
    BRENGOS cabai rawit
  • 12.000
    Buncis
  • 49.500
    ELX Cabai Merah Keriting
  • 6.000
    Gambas
  • 5.500
    Kacang Panjang
  • 47.500
    OER TAVI Caba Rawit
  • 49.500
    ORI Cabai Rawit
  • 5.000
    Pare
  • 47.600
    RM Cabai Rawit
  • 5.000
    Salak Pondoh (produsen)
  • 2.000
    Sawi (PPHPM)
  • 2.500
    Terong
  • 6.500
    Timun Baby
  • 6.500
    Timun Jawa
  • 5.000
    Tomat
Lihat selengkapnya
Terhubung Dengan Kami
ASN BerAKHLAK
INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT
Layanan Kami
POSKO WASPADA PMK
STANDAR PELAYANAN DAN MAKLUMAT PELAYANAN
Link Terkait